Sabtu, 30 April 2011

Puisi Buat Rachel

Catatan: cerpen ini dimuat di majalah Anita Cemerlang, 28 Januari 1991. Edisi ke-360.

Aku berteriak begitu mataku menangkap sosok Rachel.
            “Rachel...!”
            Gadis itu menoleh. Seperti ragu-ragu memandangku. Lalu, senyumnya pun mengembang.
            “Hai, Robert Salemba!” teriaknya sambil melambaikan tangan.
            Kubetulkan letak ransel di bahu. Lalu, berlari kecil menghampirinya.
            “Mau balik ke Cirebon, ya?” tanyaku begitu tiba di hadapannya.
            Gadis itu tersenyum. “Benar. Seratus buat kamu.”
            Aku tertawa. Kapan saja bertemu dia memang selalu menyenangkan.
            “Tampaknya sudah rindu pada ayah bunda, nih.”
            “Seratus lagi buat kamu.”
            “Pasti juga sudah rindu pada si dia yang jauh di sana.”
            Gadis itu tersipu malu.
            “Nilaimu dikurangi seratus,” ujarnya.
            Aku terbahak. Lucu.
            “Kok dikurangi?”
            “Jawabanmu ngawur, sih.”
            “Ooo, kamu sudah putus sama pacarmu, toh?”
            Aih, kali ini kulihat dia mulai cemberut.
            “Nilaimu dikurangi lagi seratus.”
            “Eh, kalau gitu kamu belum punya pacar, dong?”
            Wajah gadis itu bersemu merah. Wih, kelihatan sekali pemalunya. Namun, alangkah manisnya dia begitu.
            “Liburan ini mau kugunakan untuk berkelana keliling Jawa,” ujarku bangga. “Kalau bisa sih, terus ke Bali.”
            Bola matanya membulat.
            “Menyenangkan sekali!”
            “Ya, kira-kira begitulah.”
            Kurasakan bahuku sudah agak penat. Ransel kuturunkan.
            “Yuk, kita ke kantin dulu! Kamu juga sudah haus, kan?”
            Kutarik lengannya tanpa lebih dulu mendengar jawabannya. Sembari melangkah mataku mengitari suasana stasiun. Belum begitu ramai.
            “Menurut kamu tujuanku ke mana dulu, ya?” tanyaku begitu minuman tersedia di meja.
            Ragu-ragu dia memandangku.
            “Ke Cirebon saja, deh,” senyumnya. “Supaya ada temanku di jalan. Lagi pula kan katanya di sana kamu punya tante.”
            “Cirebon sunyi,” jawabku.
            “Sunyi atau tidak tergantung dari suasana hati. Bisa saja seseorang berada di tempat ramai, tapi hatinya merasa sunyi. Sebaliknya, dia berada di tempat sunyi, tapi hatinya merasa ramai. Ya, bukankah begitu?”
            Aku tertawa.
            “Oke deh, kalau begitu aku ke Cirebon saja.”
            Matanya memandangku seolah tak percaya.
            “Sungguh?”
            Aku mengangguk serius.
            “Namun, kamu yang akan bertanggung jawab sekiranya badanku bau udang,” ujarku bercanda.
            Gadis itu tertawa. Sementara aku tersenyum-senyum sambil mengaduk-aduk air jeruk dingin. Kusedot sampai habis. Lalu, mengeluarkan dompet, dan mengambil uang… tapi, tiba-tiba, slip! Ada sesuatu yang melayang ke lantai. Hah!? Aku terkejut, lalu buru-buru memungutnya, tapi aku kalah cepat.
            “Eh, jangan lihat!” teriakku tertahan.
            “Foto pacarmu, ya?”
            Astaga! Wajahku merah padam. Aku tertunduk, rasanya tidak berani lagi memandang wajahnya yang tiba-tiba bersemu merah itu. Aku berusaha menguasai diriku. Kutarik napas dalam-dalam.
            “Foto itu kutemukan tergeletak di kelas Ruang 6,” jelasku dengan suara gemetar. “Maaf, aku sampai lupa mengembalikannya.”
            Kembali dipandanginya foto ukuran 2x3 cm itu. Dia sedang tersenyum manis di sana.
            “Pantas kucari-cari di buku harian tidak ada. Kok bisa jatuh, ya?”
            “Sini deh, biar aku saja yang nyimpan!”
            “Jangan ah! Lagi buat apa kamu nyimpan fotoku?”
            “Ya, untuk dilihat-lihat.”
            “Ih, kamu aneh.”
            “Lho, kok aneh?”
            “Foto begini aja dilihat-lihat.”
            “Memangnya kenapa?”
            “Ngga apa-apa.”
            “Nah, kalau ngga apa-apa, sini dong!”
            Gadis pemalu itu menggeleng. Namun, aku segera menjamah tangannya. Dan mengambil foto itu. Senyum nona manis yang ada di foto itu kubalas.
            “Dia selalu mendatangkan inspirasiku,” tunjukku pada foto itu.
            Kali ini, gadis itu benar-benar kulihat tertunduk. Ah, makin suka saja aku padanya.

***
            Di Cirebon kami tiba menjelang senja.
            “Jadi benar, kamu tidak usah aku antarkan?” sekali lagi gadis itu bertanya padaku dengan wajah serius. Ya, aku memang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota udang ini.
            “Nyombong nih yeee… mentang-mentang anak sini, boleh deh kamu begitu. Kan ngga lucu, cewek nganterin cowok?”
            Tawanya berderai lagi.
            “Bukan apa-apa. Soalnya aku takut kamu nanti hilang di jalan. Kan aku juga nanti yang repot.”
            Wih, keki juga digodain begitu.
            “Besok pagi jangan lupa!” aku mengingatkannya ketika angkutan kota berhenti di depan kami. Setelah gadis itu menghilang, aku memanggil becak. Menurut Rachel, dari stasiun kereta api Cirebon ke alamat rumah yang kutuju, tidak begitu jauh. Dan memang benar. Hanya sekitar 15 menit aku sudah tiba.
            Di gerbang, tante, adik mama yang paling muda itu, langsung ngomel-ngomel begitu kujelaskan siapa diriku padanya.
            “Minta ampun!” desisnya. “Sudah segede ini baru datang. Sampai tante kirain kamu ini bandit.”
            “Wah, orang seganteng ini mana mungkin jadi bandit, Tante,” ujarku.
            “Abangmu yang di Ekonomi Undip itu juga, sekali pun tak pernah datang,” ujar tante geleng-geleng kepala.
            “Mungkin lagi sibuk ngurusi skripsinya, Tante,” jelasku. “Oh ya, Tante, tadi dari Jakarta aku berdua dengan Rachel, adik kelasku. Cakep, lho, Tante. Dia anak sini. Apa Tante mengenal Rachel?”
            “Rachel?” Tante sejenak berpikir.
            Aku mengangguk. “Ya, namanya Rachel.”
            Tante seperti masih berpikir. Ah, pasti tante tidak mengenalnya.
            Tiba-tiba, seseorang muncul dari balik pintu. Ooo, cantik sekali! Agi Kakana? Aku berseru dalam hati. Wah, sudah segitu gedenya?
            “Dia Agi Kakana?” tunjukku seperti tak percaya.
            “Pertanyaan anak bodoh!” Tante menyindir. “Sampai adikmu sendiri pun tak kenal lagi.”
            Ah, tante sama saja seperti mama. Suka cerewet. Bagaimana mungkin aku bisa mengenalnya lagi? Bayangkan saja, sudah hampir sepuluh tahun tante meninggalkan kota Medan mengikuti suaminya yang pindah tugas ke Cirebon. Sedang Agi Kakana dulu masih bocah, belum ketahuan cantiknya. Lagi, cowok mana sih yang suka ngelirik-ngelirik cewek kecil yang ke mana-mana selalu gendong boneka? Dan siapa sangka, kalau sekarang jadi cantik molek begitu? Wah, wah, alangkah cepat waktu berlalu…!
            Nona molek itu ragu-ragu memandangku.  Siapa ya? Di mana pernah aku lihat, ya? Mungkin begitu matanya yang bulat jernih itu bertanya-tanya.
            Namun, aku tak peduli. Segera kudekati dia. Kuacak-acak rambutnya yang lurus tergerai di bahunya itu. Rambutnya baru habis dikeramas. Sungguh, aku begitu gemas melihatnya. Wah, nyesal juga selama empat tahun di Ekonomi UI tak pernah datang melihat “barang antik” ini. He, he!
            Setelah memporak-porandakan rambutnya yang sewangi kenanga itu, aku pun masuk kamar. Biarkan saja gadis itu bertanya pada mamanya aku ini siapa. Sungguh, badanku sudah begitu penat rasanya.

***
            Malam menjelang tidur. Aku teringat Bonar Rajagukguk. Cowok Batak itulah sebenarnya yang mengilhamiku suatu saat bisa bertualang di kota udang ini. Jasanya padaku sungguh tak ternilai. Di samping dalam waktu dekat ini aku akan  menangkap “buruanku”, aku juga telah bertemu dengan keluarga tante yang sudah bertahun-tahun tak kulihat.
            Kucium lagi dengan mesra foto copian yang ada di tanganku. Namun, hih, kembali aku ngeri membayangkan tragedi apa yang bakal terjadi bila Rachel kemudian tahu bahwa buku hariannya pernah dikerjai orang. Ini semua, Bonar Rajagukguk pelakunya…!
            Sekarang kutatap foto gadis lembut itu. Dan samar-samar suara Bonar terngiang-ngiang di telingaku.
            “Aku tidak sempat mengembalikan fotonya yang terjatuh itu,” cemasnya. “Aku melihat dari jendela tiba-tiba dia datang sedang menuju kelas. Benar-benar foto sialan!”
            “Hush!” Aku membentaknya. “Kamu sendiri apa-apaan membaca buku harian orang dan memfotocopinya?!”
            “Bah! Sialan kamu! Sudah capek menolongmu malah ngatain aku macam-macam!”
            “Tapi, bukan begitu caranya. Pakai adat sedikit, dong!”
            Hmmm. Tanpa sadar aku tersenyum-senyum membayangkan kecemasan Bonar itu. Dasar Bonar Rajagukguk! Kesetiakawanannya memang luar biasa, tapi caranya itu… bah!
            Tulisan Rachel di fotocopian begitu rapi. Aku merasakan ada ketulusan yang dalam dari hatinya. Rangkaian kata-katanya memikat hatiku. Betapa puitisnya.
            Hari ini ulang tahunku yang ke-19. Seorang cowok datang ke rumah membawa sebuah puisi untukku. Judulnya Puisi buat Rachel. Ah, romantis sekali. Namun, aku heran. Sebenarnya ulang tahunku ini tidak dirayakan. Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkan data kelahiranku sehingga malam itu dia datang tanpa pernah kuduga sebelumnya.
            “Aku tidak punya apa-apa,” ujarnya. “Tapi, hanya ini. Hanya sebuah puisi. Semoga kamu suka….”
            Aku mengangguk.
            “Terima kasih,” ujarku.
            Hatiku begitu terharu. Di ibukota yang serba sibuk dan hangar-bingar ini ternyata masih ada yang mengingat hari bersejarahku.
            Dia segera pulang. Ah, alangkah cepatnya. Padahal aku ingin sekali dia menemaniku bertukar cerita. Bukankah dia pandai mengarang? Aku pun menangkap kesan, dia tidak sedang terburu-buru untuk aktivitas lain. Namun, entah kenapa, hati ini tak kuasa menahannya. Ternyata, aku sama saja seperti dia. Sama-sama pemalu. Aku pun melamun di kamar. Walau sendiri, tapi hatiku bahagia. Berulang kali puisi itu kubaca.
            Remang-remang di ruang tamumu
            Seribu cawan terangkat
            Ah, alangkah nikmat
            Meneguk anggur sebelum berdansa
            Ayo, cepatlah tiup
            Nona yang melahirkan inspirasiku
            Lilin-lilin di meja cendana
            Aku ingin kita turun
            Seperti mereka

            Hmmm. Gadis itu mengaku seorang pemalu. Namun, apakah benar aku juga seorang pemalu? Aku jadi geli. Lalu, bagaimanakah kalau dua orang pemalu diam-diam saling jatuh hati…? Pasti lebih banyak merananya ketimbang manisnya. Sebab, cinta itu terpendam terus. Bisa jadi suatu saat lenyap tiada menentu. Nah, karena itulah nona manis, aku datang memburumu.

***
            Tok, tok, tok!  
            Ada yang mengetuk pintu kamar. Kulirik jam di lengan kiriku. Hampir pukul tujuh. Hop! Aku melompat dari pembaringan. Kubuka pintu. Ada Agi Kakana.
            “Heh, kamu ternyata, anak manis,” ujarku.
            “Ada tamu, tuh,” katanya.
            “Siapa?”
            “Cewek.”
            Pasti Rachel, seruku gembira dalam hati.
            “Cakep ngga?” tanyaku lagi. “Kalau ngga cakep suruh pulang aja, deh!”
            “Ayo, ah! Kasihan tuh, sudah lama nungguin.”
            “Jawab dulu dong! Cakep ngga?”
            “Cakeeep banget!”
            Aku tertawa.
            “Ssst… sini!” bisikku sambil menarik lengannya. “Dia calon kakakmu. Ayo, temani dulu dia. Aku mandi dulu, ya…!” Aku pun mengambil handuk.
            Seusai mandi, kudapati Rachel asyik ngobrol dengan Agi Kakana. Sementara oom dan tante belum pulang dari lari pagi. Kami segera ke luar.
            “Itu tadi Agi Kakana,” jelasku pada Rachel. “Dia anak tunggal tante. Eh, ngomong-ngomong, kita ke mana, nih?”
            “Kita jalan santai aja, ya,” ajaknya.
            Aku mengikuti langkahnya. Hmmm, udara pagi ini sejuk sekali. Aku menebarkan pandangan. Pohon-pohon yang rindang tumbuh di sepanjang jalan. Burung-burung berkicau merdu.
            “Kapan ngelanjutin petualanganmu lagi?” suara gadis itu membuyarkan lamunanku.
            Aku menarik napas.
            “Belum tahu pasti,” jawabku. “Aneh, rasanya aku jadi betah berlama-lama di sini.”
            “Kenapa?” tanyanya heran.
            Aku mengangkat bahu.
            “Mungkin lagi dapat ilham untuk nulis cerita dengan latar belakang Cirebon, ya?”
            Aku menggeleng.
            “Lalu?”
            “Lalu, selesai liburan semester ini aku pulang ke Jakarta. Kamu juga pulang, kan?”
            “Kamu ini aneh.”
            “Kok aneh?”
            “Kamu pasti cepat bosan di sini.”
            “Kalau bosan, tentu saja aku segera pulang. Kupikir, aku tidak akan bosan.”
            Kami menyeberang. Melangkah lagi menelusuri sepanjang jalan yang amat teduh. Lalu membelok ke kiri.
            “Percaya, deh! Kamu pasti cepat bosan,” nasehatnya lagi.
            “Kalau begitu doakan, dong, supaya betah,” suruhku.
            “Percuma doain kamu. Kamu orangnya kan suka berpetualang. Apa masih belum sadar juga?”
            “Namun, belakangan ini aku ngga suka lagi bepergian,” jelasku. “Tahu ngga apa sebabnya?”
            “Enggak.”
            Aku tidak segera menjawabnya. Kuingat buku harian itu.
            “Kok jadi diam?”
            Aku menarik napas.
            “Kamu yang membuat aku betah di sini. Sebenarnya aku tidak pernah punya rencana keliling Jawa selain Cirebon, kota kelahiranmu. Ya, aku pikir di sini amat menyenangkan… karena ada kamu.”
            “Jadi….”
            “Jadi, selama ini aku membohongi kamu,” potongku. “Kemarin di stasiun Gambir aku bersembunyi, menunggu kamu. Jadi, pertemuan kita itu bukan secara kebetulan.”
            “Untuk apa kamu lakukan itu semua?”
            “Untuk bisa selalu bertemu kamu,” jawabku. “Dua bulan liburan rasanya terlalu lama berpisah dengan kamu.”
            Dia tertunduk. Namun, tiba-tiba dicubitnya lenganku dengan keras.
            “Ih, kamu jahat! Kamu curang!”
            Aku menangkap lengannya.
            “Kamu cakep. Kamu manis. Kamu membuat aku terpaksa lama tinggal di sini. Karena itu kamu juga harus bertanggung jawab kalau badanku nanti bau udang….”
            “Siapa suruh datang ke mari?”
            “Ooo, kamu, kamu yang nyuruh. Ingat kan waktu kemarin di Gambir?”
            Lenganku dicubitnya lagi. Ow, sakitnya minta ampun!
            “Kalau kamu cubit lagi, aku segera pulang!” ancamku.
            “Biarin! Pulang aja sekarang!”
            Aku tak berkata apa-apa. Kalau pulang, aku akan kesepian. Lalu, aku memandangnya. Seketika dia tertunduk. Ah, alangkah manisnya dia. Alangkah makin suka aku padanya. Tanpa ragu-ragu aku meraih lengannya. Kubawa dia ke ujung jalan sana.



Kamis, 28 April 2011

Aku Punya Impian

Catatan: Tulisan ini bertajuk Sekolah Masa Depan: Kenangan dan Harapan untuk SMA Immanuel Medan, dimuat di harian Sinar Indonesia Baru, 7 Juli 2003

Ketika belajar di Jepang
Ketika melintas di bawah pepohonan rimbun pada sebuah jalan di Penang, Malaysia, guide tour yang memandu perjalanan kami,  menunjuk ke gedung tua yang berdiri kokoh di atas halaman rumput yang luas. “Itu bekas sekolah saya. Kami dulu menggunakan English sebagai bahasa pengantar,” ujarnya bangga.

Tentu saja, sahabat dari negeri jiran itu tidak bermaksud pamer. Diam-diam aku pun merasa kagum melihat bangunan tua itu. Mungkin sudah ratusan tahun usianya tapi kelihatan sangat terawat. Di negeri kita gedung-gedung kuno dibiarkan tak terurus (lihatlah, apa yang terjadi dengan istana Maimun di Medan). Atau lenyap satu demi satu ditelan waktu digantikan gedung-gedung  seperti susunan kotak korek api. Peninggalan-peninggalan masa silam yang merupakan saksi-saksi bisu dalam mengungkap proses panjang sejarah negeri kita, sudah begitu langka.

Aku pun terkenang bekas sekolah tercinta, SMA Immanuel Medan. Dalam hal “pamer” sekolah, sebenarnya aku juga sering melakukannya kepada siapa saja bila melintas di sepanjang jalan Slamet Riadi-Jendral Sudirman. Ya,  aku bangga sekali pernah bersekolah di sana. Dan aku tahu, banyak sekali pelajar ingin sekolah di sana.

Bagiku, menuntut ilmu di Immanuel merupakan satu perjuangan yang tak pernah terlupakan. Usai SMP (1981), aku memutuskan sendiri untuk melanjutkan sekolah  di sana. Aku tidak perlu meminta pertimbangan dari siapapun. Bapak pasti keberatan kalau aku beri tahu biaya pendaftarannya. Aku takut dianggap macam-macam saja. Lalu, dari mana aku memperoleh biayanya? Aku beruntung, aku dapat hadiah dari Tabanas sebesar Rp 1 juta setahun sebelum masuk SMA. Uang itulah aku gunakan untuk biaya pendaftaran.

Waktu itu aku sangat terpengaruh pesan Bung Karno yang tertulis dalam buku tulis, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit!”. Sebagai anak remaja, aku sudah punya impian, yakni kuliah di perguruan tinggi ternama di negeri ini, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia! Pada waktu itu, betapa heboh rasanya melihat orang-orang yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri (PTN) bergengsi seperti UI, ITB, UGM,  dan UNPAD. Nama kita pun terkenal karena bagi yang lulus diumumkan di koran-koran. Banyak pula yang bilang, lulusan UI gampang cari kerja! Jadi, siapa tidak ingin kuliah di sana?

Tentu aku sadar, jalan yang akan ditempuh tidaklah mudah. Bayangkan, betapa berat kompetisi yang harus dihadapi ribuan pelajar untuk mendapat sedikit kursi yang tersedia. Mereka yang punya cita-cita “setinggi bintang di langit”, pastilah jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri.

Aku pun menggunakan strategi yang muncul dari diri sendiri. Aku harus mencari sekolah bermutu, tempat aku dilatih untuk menghadapi ujian-ujian berat. Oleh karena itulah, aku pilih Immanuel. Kenapa di sana? Informasi yang aku peroleh dari mulut ke mulut: sekolah itu adalah sekolah anak-anak orang kaya, pintar-pintar, dan memiliki disiplin tinggi.  Betapa sempurna, pikirku waktu itu. Sudah kaya, pintar, disiplin lagi. Aku selalu berkata keras kepada diri aku: jangan sampai menjadi orang yang sudah miskin, bodoh, malas lagi!

Adapun informasi resmi yang kuperoleh dari harian Sinar Indonesia Baru, setiap tahun sekitar 50 persen dari total siswa lulusan SMA Immanuel masuk PTN.  Informasi ini  penting sekali bagiku. Ini menjadi semacam pendorong semangat  bagiku untuk berjuang dalam menggapai cita-cita. Dalam hitunganku, kalau ada seratus murid yang lulus, dan andaikata aku termasuk dalam rangking 50 besar, maka secara statistik aku sudah lulus. Apalagi kalau aku masuk ranking sepuluh besar!

Bagiku, Immanuel adalah “The Real School”. Sekolah yang benar-benar aku impikan. Mula-mula aku heran menyaksikan penampilan guru-guru berdasi, apalagi lengkap dengan kacamatanya. Ya, mirip  dengan direktur perusahaan besar. Sungguh berwibawa. Materi-materi pelajaran disampaikan oleh guru-guru berdedikasi tinggi. Sampai sekarang aku ingat, guru Biologi, Bapak Sihombing menyampaikan metode belajar secara mudah. Misalnya, untuk mengingat nama planet-planet secara berurutan dari matahari, sebut saja “mamevebu mayu sauneplu”, yakni singkatan dari Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto. 

Strategi lain adalah fokus pada pelajaran yang akan diuji di PTN, yakni Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, Pendidikan Moral Pancasila). Secara khusus aku menambah jam belajar untuk keempat  pelajaran tersebut. Meminjam istilah Stephen R Covey, dalam buku First Things First, keempat pelajaran itu merupakan kuadran kualitas. “Disinilah kita melakukan perencanaan jangka panjang, mengantisipasi, dan menanggulangi masalah-masalah untuk memperluas cakrawala pikir kita, dan meningkatkan keahlian kita”, tulisnya.

Menurutku, mempelajari seabrek pelajaran lain seperti Olah Raga, Tata Buku, Hitung Dagang, Seni Rupa, Kesenian (belajar baca not-not balok yang selalu membuat kami tertawa), Stenografi, dan Bahasa Jerman adalah …. bukan saja tidak perlu, tapi juga tidak penting! Aku dulu berjanji, tidak akan bersedih kalau ada angka merah dalam salah satu pelajaran tersebut. Visiku jelas: UI. Aku sudah cukup direpotkan dengan pelajaran-pelajaran yang akan diujikan untuk PTN. Kenapa kita mau direpotkan dengan pelajaran-pelajaran lain yang sama sekali tidak diperlukan untuk masuk UI? Kenapa kita harus buang-buang waktu?

Pernah aku berkunjung ke Singapura, dan  bertanya kepada seorang anak Medan yang melajutkan studi di sana tentang pelajaran di Indonesia. Jawabannya sungguh mencengangkan. Menurutnya, pelajaran di Indonesia terlalu banyak.  Bahkan, orang tuanya yang lulusan Inggris  menegaskan, dibandingkan dengan negeri David Beckham, pelajaran di Indonesia terlalu berat sangkin banyaknya.  Bayangkan, seorang siswa harus mempelajari banyak pelajaran yang belum tentu diminati.

Aku teringat komentar mantan Perdana Menteri legendaris Inggris, Winston Churchill dalam buku Accelerated Learning for the 21st Century karya Colin Rose dan Malkolm J. Nicol: “Saya mau merayakan ulang tahun ke-12 ketika menghadapi  ujian-ujian sekolah yang tidak ramah, yang selama tujuh tahun berikutnya saya diwajibkan menempuh perjalanan itu. Ujian ibarat persidangan besar bagi saya. Subjek-subjek yang disukai para penguji hampir semuanya adalah materi-materi yang tidak saya sukai. Sebenarnya  saya   lebih  suka    diuji dalam subjek sejarah, puisi, dan esai. Tetapi, di pihak lain, para penguji lebih suka Bahasa Latin dan Matematika. Dan kehendak merekalah yang berlaku. Terlebih lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang kedua subjek tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama sekali tidak mampu saya jawab dengan memuaskan. Saya sebenarnya lebih suka jika diminta untuk mengatakan apa yang saya ketahui benar-benar, tapi mereka selalu mencoba menanyakan apa yang tidak saya ketahui. Ketika saya bermaksud hendak menunjukkan pengetahuan saya, mereka mencoba mencari-cari dan mengungkap ketidaktahuan saya. Perlakuan semacam itu hanya akan mengakibatkan satu hasil, saya tidak dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik”.

Colin Rose dan Malcolm J Nicholl menegaskan, “Hampir di mana pun, kegembiraan belajar sering berubah menjadi cercaan kejam. Pembelajaran menjadi disamakan dengan pemerolehan serpihan-serpihan informasi yang diperlukan untuk lulus ujian dan memperoleh gelar. Subjek-subjek pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi saling tidak terkait dan terpisah dari dunia nyata. Belajar menjadi beban yang membuat stres.”

Sekarang, setelah mengevaluasi strategiku dalam belajar, aku pikir, itulah cara  terbaikku. Perlu aku   sampaikan,   salah satu strategi siswa-siswa Indonesia yang berhasil merebut perhatian dunia dengan menyabet sejumlah medali dalam Olimpiade Matematika, Kimia, dan Fisika, yakni mereka dikarantina sebelum bertarung ketat, dengan latihan-latihan yang fokus dan dilakukan secara menyenangkan. Bisa kita bayangkan, apa yang terjadi jika dalam latihan itu mereka dijejali dengan pelajaran “gado-gado”?

Oh ya, perlu kusampaikan, kerja kerasku di Immanuel akhirnya membuahkan hasil: aku selalu masuk tiga besar di jurusan IPS, kemudian pada semester V-VI, aku ranking pertama! Aku berbisik dalam diriku, lihatlah aku menjadi juara pertama di sekolah terbaik di Medan.... Aku pun semakin mantap mendaftar ke UI. Demikian pesan guru bahasa Indonesia, Bapak Surbakti yang masih aku ingat, “Lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut.” Artinya, “Sesuatu itu menjadi milik kita kalau diulang-ulang melakukannya”. Tersirat dalam pesan itu, menuntut ilmu  butuh kesabaran; tidak ada jalur cepat menjadi orang sukses.

Usai ujian masuk PTN, aku pergi ke Semarang. Berlibur di rumah kos abangku yang kuliah di Universitas Diponegoro. Aku pun berpikir, kalau gagal masuk PTN, aku akan ikut bimbingan tes selama setahun. Namun, abangku merasa yakin, aku akan berhasil dalam ujian, minimal masuk Komunikasi Massa USU sebagai pilihan kedua, mengingat hasil tesku sekitar 75 persen dari seluruh soal bisa aku kerjakan dengan benar.

Hasil tes Sipenmaru diumumkan pada Sabtu, 14 Juli 1984. Namun, pada hari itu aku belum tahu apakah berhasil atau tidak. Aku mengikuti ujian di Medan, termasuk rayon Barat, sedangkan Semarang masuk rayon tengah. Aku sempat pergi ke kampus Undip untuk mencari informasi, tapi yang kulihat hanya hasil ujian untuk rayon tengah. Maklum saja, pada waktu itu, informasi tidak secepat sekarang beredar. Abangku pun terpaksa berangkat ke Bandung untuk mencari informasi penting itu.

Keesokan harinya, seusai ibadah, seorang pengurus gereja mengatakan, namaku kayaknya ada tercantum di koran Sinar Harapan (sekarang Suara Pembaruan). Membuat jantungku berdebar-debar. Benarkah? Ah, jangan-jangan dia sedang bercanda, menganggap cita-citaku masuk Ekonomi UI terlalu muluk-muluk? Bukankah dia sendiri mengatakan, “Kayaknya....” Ah, lebih baik jangan langsung percaya dulu, nanti kecewanya bukan main kalau ternyata  bukan namaku. Namun, untuk meyakinkanku, dia mengajakku ke rumahnya untuk melihat koran itu. Terlebih dahulu kami mengantarkan keluarganya ke stasiun kereta api, Tawang untuk tujuan Jakarta. Sembari menunggu kereta api berangkat, aku melihat penjaja koran lewat. Aku pun memanggilnya. Dengan tak sabar dan jantung semakin berdebar-debar kencang, aku membuka lembaran koran yang memuat nama-nama yang masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ya, Tuhan, ternyata ada namaku! Tanganku seketika gemetar, karena aku masih belum begitu yakin, toh banyak yang mirip namanya, bukan? Siapa tahu itu bukan aku? Lalu, aku menoleh ke nomor ujian yang juga dimuat dalam koran itu. Ya, itu nomor ujianku.  Aku ingat betul. Cihuy…! Aku lulus! Aku lulus! Tanpa sadar, aku berteriak keras dengan tangan terkepal di peron itu. Orang-orang melihatku. Mereka segera tahu apa yang sedang terjadi. Karena pada saat itu di seantero negeri ini sedang “demam” masuk perguruan tinggi dambaan.  Mereka pun mendatangiku, dan menyalamiku. Impianku menjadi kenyataan!    

Minggu, 24 April 2011

Sejarah Paskah

         Catatan: Artikel ini dimuat di harian Sinar Indonesia Baru, 16 April 2006.


         Sejarah mencatat, Paskah pertama terjadi pada malam tanggal 14 bulan Nisan sekitar 3.500 tahun silam ketika bangsa Israel meninggalkan Mesir. Empat hari sebelumnya, Tuhan berkata kepada Musa agar menyuruh setiap rumah tangga memilih seekor anak domba jantan berumur setahun dan tidak cacat. Setelah dikurung empat hari, domba itu disembelih pada waktu senja. Kemudian  darahnya dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pada setiap rumah di mana orang memakannya. Pada malam itu juga Tuhan akan mengelilingi tanah Mesir untuk membunuh semua anak sulung dari anak manusia sampai anak binatang dan menghukum semua dewa di Mesir. Darah itu menjadi tanda di rumah-rumah orang Israel tinggal. Apabila Tuhan  melihat darah itu, maka Ia akan melewati mereka. Tidak akan ada tulah kematian di antara kaum Israel. Alkitab mencatat secara rinci peraturan Paskah sesuai dengan petunjuk Tuhan (Keluaran 12).
Tuhan berfirman pula agar mereka membuat peristiwa itu sebagai hari raya bagi Tuhan yang harus dirayakan turun-temurun. Paskah dalam bahasa Ibrani adalah Pesach atau Pesah, artinya melewati. Ketika melihat tanda darah itu, maka “Aku akan lewat dari pada kamu,” ujar Tuhan dalam Keluaran 12:13. Demikianlah orang Israel setiap tahun merayakan Paskah pada hari ke-14 bulan Nisan. Hingga kini, Paskah menjadi salah satu tanggal penting dalam kalender Yahudi. Bagi rakyat Israel, Paskah berarti mengenang saat pembebasan bangsanya dari perbudakan Mesir.
Hari Paskah pada zaman Yesus dirayakan-Nya pada malam sebelum Ia ditangkap (Matius 26:17). Dengan kata lain, setelah makan Paskah, Yesus bersama murid-murid-Nya menuju Getsemani, di mana kemudian orang-orang suruhan para pemimpin agama Yahudi menangkap-Nya. Namun, Rasul Yohanes mencatat, hari Paskah dirayakan setelah penangkapan itu. “Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah” (Yohanes 18:28).
Catatan di Alkitab menunjukkan, terdapat perbedaan sehari bagi Israel dalam merayakan Paskah. Kenapa demikian? Secara turun-temurun rakyat Yahudi mengikuti panduan Paskah dari Perjanjian Lama. Antara lain, mereka memilih korban sembelihan pada empat hari sebelum tanggal 14 bulan Nisan. Dengan kata lain, mereka telah disibukkan memilih domba-domba yang memenuhi persyaratan sebagai korban Paskah pada tanggal 10 bulan Nisan, yakni hari Senin pekan itu. Perbedaan hari perayaan Paskah kemudian muncul disebabkan bangsa Yahudi pada zaman Kristus memiliki dua metode penghitungan kalender. Orang Farisi, orang Galilea (Yesus berasal dari sini), dan distrik-distrik utara Israel, menghitung tiga hari dari matahari terbit sampai matahari terbit. Sedangkan orang Saduki, orang Yerusalem, dan distrik-distrik selatan Israel menghitung hari dari matahari terbenam sampai matahari terbenam. Menurut wilayah utara, tanggal 14 bulan Nisan berarti jatuh pada hari Kamis, sedangkan menurut wilayah selatan, jatuh pada hari Jumat.     
            Sebagai pengikut Kristus, kita percaya bahwa Yesus menjadi Anak Domba Allah yang dikorbankan untuk menebus dosa-dosa kita (Yohanes 1:29). Paskah terakhir Yesus pada malam itu tentu tak akan pernah kita lupakan. Seniman besar Leonardo da Vinci (1452-1519) mengabadikannya melalui lukisan terkenal Perjamuan Terakhir untuk mengenang peristiwa itu. Alkitab mencatat: “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu, Ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Minumlah kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:26-28).
            Tentu saja, Paskah sejati terjadi pada Perjanjian Baru, ketika darah Yesus, Anak Domba Allah itu, dicurahkan untuk melepaskan umat manusia dari perbudakan dosa. Seperti tulis Alkiab, “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Ibrani 10:4).
Lalu, sebagai pengikut Yesus Kristus, kapan tepatnya kita merayakan Paskah? Tidak seperti Natal, yakni mengenang kelahiran Yesus yang puncaknya jatuh pada setiap 25 Desember, kita tidak memiliki tanggal yang tetap untuk merayakan Paskah. Jangankan tanggal, bulan untuk merayakan Paskah juga sering tidak sama dari tahun ke tahun. Terkadang diperingati pada bulan Maret, terkadang  April.
Pada mulanya memang ada usulan dari jemaat Kristen asal Yahudi agar hari Paskah ditetapkan seperti dalam kalender Yahudi, tanggal 14 bulan Nisan. Artinya, Paskah bisa jatuh pada hari apa saja. Namun, ada pula pendapat agar Paskah tetap dirayakan pada hari Minggu setelah kebangkitan Yesus. Namun, tepatnya hari Minggu yang mana?
            Kemudian, pada tahun 325 dalam sebuah konsili (persidangan gerejawi) di Nicea, dikeluarkan sebuah ketetapan untuk hari Paskah yakni, pada hari Minggu pertama sesudah purnama, setelah tanggal 21 Maret permulaan musim semi. Jika purnama jatuh pada hari Minggu, maka Paskah dirayakan pada hari Minggu berikutnya. Keputusan itu dipegang terus oleh semua gereja di seluruh dunia hingga kini. Bisa dipastikan, setiap tahun Paskah jatuh antara tanggal 22 Maret-25 April. Karena  purnama bisa dihitung jauh hari sebelumnya, maka tanggal Paskah bisa dibuat beberapa tahun ke depan. Selamat Paskah!

Kamis, 21 April 2011

Jalan Salib

Catatan: Artikel ini dimuat di harian Sinar Indonesia Baru, 23 Maret 2008


Bukanlah perkara mudah untuk menjadi orang Kristen  sejati. Yesus mengatakan, “Barangsiapa tidak memikul salibnya, dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:27). Memikul salib adalah suatu sikap yang rela menanggung risiko berat untuk menyatakan kebenaran (Yohanes 18:37), dan mengikut Yesus berarti setia mempertahankan kebenaran bahkan sampai ajal tiba. William Barclay (1907-1978), penafsir Alkitab terkenal dalam buku The Gospel of Matthew menulis, “Yesus tidak menginginkan para pengikut-Nya hanya terseret oleh emosi  sesaat, semangat mudah berkobar, tapi mudah pula padam. Yesus menghendaki agar para pengikut-Nya benar-benar sadar atas keputusannya untuk mengikut Dia”. Dengan kata lain, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi pengikut Kristus.
Meskipun punya kesempatan untuk menghindar dari jalan salib (penderitaan),  ternyata Yesus tidak memilih cara itu. Berulang kali Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan. Ketika Petrus mengatakan bahwa hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Dia, maka Yesus pun menghardiknya. Dan satu adegan dramatis yang selalu kita kenang, khususnya pada Jumat Agung adalah peristiwa di taman Getsemani. Ketika itu, segerombolan besar orang bersenjata menangkap-Nya, dan Petrus secara spontan mencabut pedang dan menebas telinga seorang hamba Imam Besar. Bukan segera menghindar dari mereka, Yesus justru menunjukkan belas kasih-Nya: memulihkan telinga orang yang hendak menangkap-Nya, dan menghardik Petrus, murid yang dikasihi-Nya itu agar memasukkan pedangnya. “Atau kau sangka, Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” (Matius 26:53). Lihatlah, Yesus tidak perlu dibela oleh siapapun. Kalau Ia menghendaki, maka lebih dari dua belas pasukan malaikat pasti membantu-Nya. Jika satu pasukan terdiri dari enam ribu prajurit, maka dua belas pasukan malaikat berjumlah 72.000 malaikat. Ingat, satu malaikat saja mampu membunuh 185.000 tentara Asyur dalam satu malam (2 Raja-raja 19:35). Bayangkan, jika 72.000 malaikat turun, apalah arti bantuan seorang murid yang hendak menolong-Nya?
Mereka pun menggiring-Nya ke hadapan Kayafas, Imam Besar itu. Di sana telah berkumpul imam-imam, ahli-ahli Taurat, dan tua-tua yang sudah lama berencana untuk membunuh-Nya. Adanya kepentingan yang sama membuat mereka terlihat kompak (kaum rohaniawan Farisi sering bertentangan dengan Saduki) untuk merundingkan rencana jahat itu. Bagi mereka, Yesus adalah ancaman yang harus disingkirkan. Alasan mereka jelas, kehidupan mereka sebagai pemuka agama sering dikecam oleh Yesus, dan mereka beranggapan bahwa Yesus telah menghujat Allah.
Pada zaman itu, hampir semua orang yang hidup di negeri jajahan Romawi berada di bawah garis kemiskinan. Kontras dengan para pemimpin Yahudi yang hidup dengan kemewahan. Alih-alih membuat program pengentasan kemiskinan, mereka secara sistematis memiskinkan rakyat melalui sejumlah undang-undang. Pada saat menjelang  Paskah, misalnya, setiap orang dewasa Yahudi, paling tidak sekali dalam  hidupnya ingin mewujudkan impian, beribadah ke Yerusalem. Sejarawan abad pertama Josephus, sebagaimana dikutip John MacArthur dalam buku The Murder of Jesus menyebutkan, sebanyak 2,5 juta- 3 juta orang Yahudi dari seluruh dunia memenuhi Yerusalem pada hari Paskah dan sekitar 250.000 anak domba dikorbankan. 
Tentu saja, para pemimpin Yahudi melihat ada peluang bisnis menggiurkan. Sudah menjadi rahasia umum, keluarga Imam Besar memonopoli bisnis peribadahan. Mereka menjual korban-korban Paskah. Ada pula peraturan agar uang persembahan harus menggunakan mata uang Yahudi, mata uang Romawi diharamkan. Mereka pun menyediakan meja-meja penukar uang dengan kurs yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Dalam pikiran awam, tentu saja semua itu dilakukan demi memperlancar peribadahan. Namun, Yesus melihat kecurangan di balik selubung penyelenggaraan ibadah itu. Yesus tak pelak mengecam mereka secara terbuka. “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati,” tulis Alkitab dalam Matius 21:12.
Tidak diragukan, mereka kembali terusik. Mereka tentu saja tidak tinggal diam. Segala cara dilakukan untuk menangkap-Nya, antara lain, dengan menyuap Yudas Iskariot, murid-Nya. Tekad mereka semakin bulat untuk mengenyahkan Yesus! Lalu, mereka pun mencari-cari kesalahan-Nya. Mereka tentu ingat, Yesus pernah berkata bahwa Ia adalah Mesias. Bagi kaum rohaniawan fanatik, pernyataan itu adalah penghujatan. Pelakunya pantas dihukum mati. Namun, mereka  tidak punya cukup bukti untuk membawa Yesus ke pengadilan. Dan hukum Taurat, melarang mereka untuk membunuh. Pertemuan itu akhirnya menghasilkan cara: membunuh Yesus dengan hukum Romawi. Saksi-saksi palsu pun disiapkan. Mereka mengatakan, Yesus pernah mengaku sebagai Raja Yahudi. Dengan kata lain, Yesus dituduh hendak membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi. Bukankah pernyataan itu dapat mengancam eksistensi Romawi di Palestina? Mereka pun menghadapkan Yesus kepada Pontius Pilatus, wali negeri (setingkat gubernur) Yudea yang memiliki kuasa penuh atas hidup dan mati seseorang.
Sebagai orang berpengalaman dalam politik, Pilatus tentu tidak percaya begitu saja terhadap tuduhan palsu itu. Yesus dianggap tidak punya potensi untuk membahayakan kekaisaran. Para pengikut-Nya hanya segelintir orang udik. Pilatus tidak diragukan mengetahui pertikaian mereka dengan Yesus murni dalam wilayah teologis. Tentu saja, Pilatus tidak ingin terlibat dengan urusan internal mereka. Alkitab menulis, sampai tiga kali Pilatus berkata kepada mereka: “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya yang setimpal dengan hukuman mati….” (Lukas 23:22). Namun, rakyat Yahudi entah kenapa begitu mudah terhasut,  padahal ketika Yesus memasuki Yerusalem, mereka mengelu-elukan-Nya, “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Matius 21:9), dan kini mereka menuntut Pilatus agar menyalibkan-Nya. Dalam kondisi tertekan,  Pilatus tidak mau ambil pusing, dan demi mengamankan kekuasaannya, ia pun mengabulkan tuntutan mereka. Akhirnya, Yesus  digiring ke Golgota.
Seperti kata Pilatus, “Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya yang setimpal dengan hukuman mati.” Namun, kenapa Yesus rela diludahi, dicambuk, ditampar, diolok-olok, bahkan digantung sampai mati di kayu salib? Kenapa Yesus tidak menghindar dari penyaliban yang bagi orang Yahudi merupakan cara yang terkutuk untuk mati? Terlepas dari adanya konspirasi di antara pemimpin bangsa Yahudi yang menyebabkan Yesus disalibkan, dalam perspektif Alkitab, dengan cara demikianlah manusia berdosa diperdamaikan dengan Allah. Kita yang seharusnya menanggung penderitaan karena dosa, di dalam kematian-Nya kita beroleh pengampunan. Seperti tulis  Rasul Paulus, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).
Terpujilah Tuhan! “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Kiranya Jumat Agung yang kita kenang sebagai hari di mana Yesus berkorban hingga mati demi kita, mengingatkan kembali akan eksistensi kita sebagai murid-Nya. Bahwa mengikut Yesus berarti memikul salib dan mengikuti jalan-Nya.


Sabtu, 12 Maret 2011

Taat


Alkitab mencatat, berulang kali rakyat Israel memberontak terhadap Musa. Jelas, ini menunjukkan ekspresi kekecewaan dan ketidakpercayaan terhadap pemimpin pilihan Tuhan itu. Padahal melalui nabi besar itu, mereka sudah menyaksikan mukjizat-mukjizat Tuhan. Ya, bangsa Israel tercekam ketakutan saat menyaksikan nyawa setiap anak sulung Mesir direnggut. Mereka takjub menyaksikan Laut Merah dibelah sehingga mereka yang berjumlah sekitar dua juta orang itu dapat berjalan menuju seberang, akhirnya luput dari kejaran pasukan Firaun.
Antara Mesir yang makmur dan Tanah Perjanjian yang berlimpah susu madunya terbentang jarak sekitar 300 km. Dalam keadaan normal dapat ditempuh hanya sekitar dua minggu dengan berjalan kaki. Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa itu  menempuhnya selama hampir 40 tahun (menurut perkiraan berlangsung pada 1446 SM-1406 SM). Kenapa begitu lama? Ya, karena kejahatan mereka sendiri.  “Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk,” ujar Tuhan. Bangsa pemberontak itu membuat Musa sebagai pemimpin sangat menderita. Di Mara, mereka bersungut-sungut karena kehausan. Di padang gurun Sin, mereka menantang Musa karena kelaparan. Bahkan nyawa Musa sering terancam, mereka pernah nyaris melemparinya dengan batu, membuat Musa ketakutan dan  berseru-seru kepada Tuhan agar segera mengirimkan tuntutan kebutuhan bangsa itu.
Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah membiarkan umat yang dikasihi-Nya itu menderita. Ketika haus, Tuhan menyediakan air minum. Ketika lapar, Tuhan menurunkan  hujan roti (manna) dari langit. Ya, tak seorang pun dibiarkan Tuhan binasa karena kehausan dan kelaparan. Perbuatan ajaib Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. Hanya bangsa itu tak sudi menahan diri. Alih-alih bersyukur, mereka malah menista Tuhan. “Makanan hambar ini kami telah muak,” ujar mereka.
Mereka juga mempersoalkan kepemimpinan Musa. Mereka mengatakan, akan mengangkat seorang pemimpin yang membawa pulang ke Mesir. Sekali waktu, Musa tak dapat lagi menahan diri. Ia begitu sedih. “Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini dan akukah yang melahirkannya...?” (Bilangan 11:12). Aku sendiri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku.” (Bilangan 11:14).
Ya, bangsa Israel keliru. Musa sekali-kali tak pernah ingin menjadi pemimpin sekalipun sebenarnya layak sekali, mengingat integritasnya yang tinggi, memiliki keberanian, dan tentu saja  kecakapan intelektual, sebab ia adalah didikan Mesir, pusat kebudayaan tinggi pada masa itu. Patut diingat, Musa adalah mantan orang dalam istana. Status sosialnya begitu tinggi dan terhormat. Apakah ia pantas menerima caci-maki dari rakyat Israel yang adalah budak-budak Mesir? Dan bukankah ia  sendiri pernah menolak Tuhan yang memilihnya menjadi pemimpin Israel? Ia sudah mengaku tak pandai berbicara. Ia juga  meminta Tuhan agar menyuruh orang lain yang dianggapnya lebih baik darinya. Namun, Tuhan terus saja mendesaknya. Pada akhirnya, ia taat kepada Tuhan. Dan satu hal lagi, Musa bersedia menjadi pemimpin karena ia begitu mengasihi bangsanya yang telah diperbudak Mesir selama 400 tahun dengan kejam.
Sesungguhnya, Musa bisa balas dendam terhadap Israel. Ya, kalau mau, ia bisa menghindar dari beban tanggung jawab berat yang tidak seharusnya dipikulnya, dan membiarkan mereka binasa. Bukankah Tuhan sering murka terhadap bangsa itu? Beberapa kali Tuhan berniat melenyapkan mereka. “Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar,” ujar Tuhan kepada Musa. Namun, Musa menangis di hadapan Allah. Ia memohon, kiranya Tuhan masih mengingat sumpah-Nya kepada leluhur Israel: membuat keturunan mereka sebanyak bintang di langit. Mendengar ratapan Musa, menyesallah Tuhan karena malapetaka yang dirancang-Nya. Israel akhirnya luput dari kebinasaan (Keluaran 32).
Kenapa Israel sering memberontak? Bila kita simak Alkitab, apa yang menjadikan mereka tidak taat kepada Tuhan ternyata karena hal-hal lahiriah, yakni makanan dan minuman. “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami ke luar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan,” sungut mereka kepada Musa di padang gurun Sin (Keluaran 16:2-3). Di Masa dan Meriba, saat kehausan, mereka bahkan dengan lantang berkata, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Keluaran 17:7).
Alkitab mencatat, Tuhan akan berkenan memberikan tanah perjanjian yang berlimpah susu madunya dengan persyaratan Israel tetap taat kepada-Nya. “Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan,” tulis Alkitab (Bilangan 14:9). Namun, mereka tak perduli dengan suara Tuhan. Mereka lebih memilih makanan dan minuman daripada janji Tuhan. Itulah yang membuat mereka terus saja memberontak.
Kisah bangsa Israel yang dilepaskan Tuhan dari perbudakan Mesir sungguh relevan dengan kehidupan kita pada masa kini. Siapakah kita? Sebagai pengikut Kristus, kita adalah orang-orang yang telah menerima anugerah Tuhan. Kita telah dibebaskan dari perbudakan dosa dengan darah Kristus. Kalau nyawa anak-Nya yang tunggal itu rela dikorbankan bagi kita, lalu apa arti sekadar makanan dan minuman? Raja Daud mengatakan, “Jika aku melihat langit-Mu buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4). 
Sebagai orang-orang yang sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, sesungguhnya kita sedang menuju tanah perjanjian baru. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal,” kata Yesus Kristus. Rasul Paulus mengatakan, kita mengharapkan kota yang akan datang. Ke sanalah visi kita harus tetap tertuju.  Namun, apakah kita taat kepada Tuhan dalam menjalani pahit getir padang gurun kehidupan menuju negeri yang dijanjikan? Pada kenyataannya, kita masih sering bersikap lebih jahat dari umat Israel itu padahal Tuhan sudah memberikan kecukupan. Kita masih terpikat dengan hal-hal duniawi. Ketika susah, seperti orang-orang Israel itu, kita pun meragukan eksistensi Tuhan: “Adakah sebenarnya Tuhan?”
Kita patut belajar taat seperti Musa. Kenapa ia begitu konsisten dengan sikapnya sekalipun nyawanya menjadi taruhannya? Rahasianya adalah Musa betul-betul mengenal Tuhan. Firman Allah kepada Musa, “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14). Artinya, tiada yang sebanding dengan-Nya. Tuhan adalah Tuhan. Ya, Tuhan adalah Maha Pencipta. Maha Pengasih. Dahsyat dan ajaib perbuatan-Nya. Lalu, siapakah manusia? Who am I?  Tuhan membentuk manusia dari debu tanah, suatu benda yang paling tak berguna. Manusia adalah makhluk lemah. Ya, Musa mengenal siapa sesungguhnya dirinya. Karena itulah ia selalu tergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ia percaya kepada panggilan-Nya. Sebagai penulis kitab Pentateukh (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), Musa menyadari perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan terhadap Abraham, Ishak, dan Yusuf. Ya, betapa di dalam setiap krisis yang dihadapi tokoh-tokoh leluhur Israel, Tuhan selalu bertindak tepat pada waktunya.
Ketaatan diperlukan untuk mencapai negeri yang dijanjikan Tuhan. Taat bukan sekadar beribadah kepada Tuhan, melainkan juga rela berkorban. Musa rela meninggalkan istana yang penuh kesenangan untuk berjalan melintasi padang gurun penderitaan. Abraham taat dengan mengorbankan Ishak, anak yang telah lama dinantikan ketika diminta Tuhan. Yesus taat kepada Allah dan tetap bertahan hingga mati di kayu salib. Dan Rasul Paulus tetap taat kepada Tuhan sekalipun dianiaya. Bagaimana dengan kita? Marilah kita introspeksi diri. Kalau kita sungguh-sungguh taat kepada Tuhan, apakah kita rela berkorban untuk-Nya? Alkitab menyatakan,  orang-orang yang taat kepada Tuhan, pada akhirnya menerima mahkota kemuliaan. Seperti kata Raja Daud, “… dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (Mazmur 23: 6).
           

Kamis, 10 Maret 2011

Iklan IN LOVING MEMORY= Okultisme?

Catatan: Artikel ini dimuat di majalah Maranatha edisi Oktober 2008


            Tulisan Pertua Arnol Raymon Ginting dari Batam bertajuk Koreksi Iklan dan Tulisan di Maranatha edisi September 2008 patut kita tanggapi. Dia mengatakan, iklan-iklan yang mengenang kepergian keluarga kita ke rumah Bapa di sorga seperti sering dimuat di Maranatha merupakan bentuk okultisme. Dia mengutip salah satu iklan yang pernah dimuat, “Sudah dua tahun bapa kami yang tercinta menuju rumah Bapa di sorga, dan kerinduan kami dan kenangan yang bapa tinggalkan, tidak pernah terlupakan oleh kami, sewaktu engkau memimpin kami menuju kepada cita-cita kami….”
            Tentang iklan-iklan semacam itu, Pertua Arnol Raymon Ginting menasihati kita, khususnya jemaat GBKP, “Penting sekali untuk disampaikan agar kita jangan terjerat pada tipu muslihat iblis.” Dan kepada redaksi Maranatha dianjurkan agar menjadi pendidik iman bagi warga GBKP, dan lebih selektif menerima iklan-iklan.
            Kenapa pembaca dan redaksi Maranatha memuat iklan-iklan semacam itu? “Dan secara iman, saya mau katakan bahwa dasar kekristenan kita masih dangkal,” tulis Pertua Arnol Raymon Ginting. Ditambahkannya, “Gereja kita memang adalah gereja suku, yang notabene segala tindak lanjut kita hanya kita orang Karo saja yang tahu. Tapi sekali lagi, saya mau katakan bahwa GBKP adalah gereja Tuhan untuk semua suku dan bangsa, dan ini adalah aset Tuhan yang perlu untuk dilindungi. Jadi bila ada gereja lain (bukan GBKP) mengatakan kita mengadopsi okultisme, kita sepertinya marah besar, dan sebenarnya kita dihargai adalah karena perbuatan dan pemahaman kita sendiri. Bagaimana kita bisa menyatakan salah kepada orang lain padahal kita sendiri belum hidup dalam kebenaran?”
            Dua pertanyaan saya terhadap tulisan Pertua Arnol Raymon Ginting adalah pertama, benarkah karena GBKP sebagai gereja suku sehingga tanpa sadar banyak jemaatnya memuat iklan yang dikatakan sebagai bentuk okultisme? Kedua, apakah iklan-iklan itu merupakan bentuk okultisme?
            Baiklah, saya jawab sendiri kedua pertanyaan di atas. Pertama, sudah jelas bahwa bukan hanya GBKP yang membuat iklan kenangan terhadap sesorang yang telah menghadap kepada Tuhan. Dalam bahasa Inggris ditulis: In Loving Memory. Dari sini saja kita bisa menyimpulkan, tradisi mengenang kepergian seseorang (atau lebih) yang telah mendahului kita menghadap Tuhan, bukan dari GBKP. Mungkin saja dari barat (Eropa dan Amerika). Justru kita yang ikut-ikutan. Coba saja kita simak pada harian SIB terbitan Medan. Pada pekan pertama September 2008 saja, saya sudah melihat dua iklan kenangan seperti yang termuat di Maranatha. Dan keduanya bukan jemaat GBKP. Jadi, kalau dikatakan karena GBKP sebagai gereja suku sehingga banyak jemaatnya tanpa sadar memuat iklan yang dikatakan sebagai bentuk okultisme, sesungguhnya tidak tepat.
            Kedua, iklan-iklan In Loving Memory (Ibas Ingeten dalam bahasa Karo) yang banyak kita lihat di berbagai media massa, apakah itu sebenarnya merupakan bentuk okultisme? Pt Arnol Raymon Ginting menulis bahwa okultisme, yaitu berbicara kepada orang yang sudah mati walaupun hanya melalui tulisan.
            Terus terang, saya suka sekali berbicara sendiri kepada alam semesta beserta isinya yang indah ciptaan Allah, Bapa kita. Ketika melihat bunga-bunga di taman, saya suka memuji keindahannya. Terkadang saya menulis keindahan itu dengan menulis beberapa puisi. Tentu saja, saya tidak sendiri. Ketika melihat purnama di langit, isteri saya suka bernyanyi, “O bulan indah cahayamu dalam malam yang gelap. Melihatmu lupa aku akan dukaku….  Apakah ini termasuk okultisme, berbicara kepada benda-benda tak bernyawa? 
Oh ya, pada saat membaca tulisan tentang iklan di Maranatha terlihat oleh saya buku harian yang sudah berumur sebelas tahun. Saya membuka lembaran-lembarannya, dan di satu halamannya, saya membaca tulisan saya sendiri, “Jumat, 22 Agustus 1997. Bapak meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya…. Aku lihat tubuh bapak dibaringkan di tanah (Bapak saya seorang muslim dan haji). Lalu, ditutup dengan tanah. Ya, bapak telah tiada. Bapak sudah bersatu dengan tanah. Selamat jalan, bapak! Aku takkan pernah melupakan Bapak. Apakah bapak tahu, hatiku begitu sepi….”
            Sepuluh tahun setelah kepergian bapak, dan untuk mengenang kebaikannya, saya atas nama keluarga menulis kata-kata ini di Maranatha edisi September 2007: “Tiada terasa betapa cepat waktu berlalu. Meskipun bapak telah lama pergi, kami tetap mengenang kasihmu.”  Apakah itu bentuk okultisme? Apakah saya termasuk orang Kristen yang telah terjerat tipu muslihat iblis dengan iklan itu? Ketika menulis kata-kata itu, saya seperti menulis puisi, tanpa pernah membayangkan bapak akan membacanya dari alam sana, sehingga dia bangga dan terhibur melihat anak-anaknya yang selalu mengenangnya. Terus terang, saya adalah orang yang paling menantang okultisme. Ketika bapak masih hidup, dia seperti umumnya kaum muslim suka sekali berjiarah ke kuburan. Pernah dia menasihati saya agar rajin berjiarah ke kuburan ibu saya agar sehat-sehat dan tercapai cita-cita. Dan dengan kalem saya berkata, “Saya meminta dan menerima semua itu hanya dari Tuhan.” Waktu itu, saya lihat bapak agak berkecil hati.
            Saya kutip saja satu artikel oleh Tikwan Raya Siregar bertajuk Inside Tan Malaka yang dimuat dalam majalah pariwisata Inside Sumatera edisi Agustus 2008: “Engku, entahlah kau komunis atau nasionalis, tapi kami tahu bahwa kau bukan seorang opurtunis, kutu loncat, dan pemakan daging-keringat rakyat sendiri. Itu saja sudah cukup bagi kami untuk memahami garis perjuangan yang kau pilih…. Dan aku mengingatnya sendirian bersama dua cangkir kopi di sebuah lobby yang ramai, yang satunya seharusnya kau (maksudnya Tan Malaka- penulis) yang minum. Sebagai imbalan kecil atas pujianmu pada kota Medan yang kami cintai ini.” Tulisan ini mengingatkan saya pada sajak terkenal Antara Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar yang mengenang pahlawan-pahlawan tanpa nama yang berguguran pada masa perjuangan kemerdekaan.
            Ya, ketika kita mengenang pahlawan-pahlawan kemerdekaan, apakah tiada yang terucap dalam hati? Sebagai orang Kristen, apakah tidak boleh mengungkapkan kekaguman kepada pahlawan-pahlawan yang telah gugur dalam bentuk syair dan puisi, lalu mengirimkannya ke Maranatha? Ya, boleh saja. Karena, iman saya masih dangkal. Itu adalah okultisme. Begitukah?
            Ketika saya membaca tulisan Pertua Arnol Raymon Ginting, saya hanya berpikir, tulisan itu tidak lebih dari nasihat yang paralel dengan pesan pengkhotbah-pengkhotbah paling bersemangat yang banyak bermunculan akhir-akhir ini: Jangan mengikuti adat! Itu adalah okultisme; Jangan sembarang makan di desa-desa! Banyak begu ganjangnya; Waspadalah dengan lukisan-lukisan dari Bali! Banyak roh jahatnya. Harus dibakar di dalam nama Tuhan Yesus (Pesan saya, kalau punya lukisan Bali, jangan dibakar. Kirim saja buat saya. Dijamin seribu persen, setannya akan lari begitu melihat saya); Jangan suka merokok (saya tidak merokok), karena tubuhmu adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19)! Merokok itu merusak bait Roh Kudus! (Lalu, bagaimana dengan Pendeta dan Pt/Dk yang suka merokok bahkan pada saat sidang runggun? Apakah mereka ini termasuk orang-orang yang sedang merusak bait Roh Kudus?), dsb-dsb!
            Pada akhirnya, saya kutip saja defenisi okultisme dari kamus Webster’s New World Dictionary, yakni percaya kepada kuasa gaib. Dengan demikian, ketika kita berkirim iklan kenangan ke Maranatha atau menulis syair untuk mengenang pahlawan-pahlawan kita, tentu saja bukan termasuk bentuk okultisme karena sebagai orang Kristen, kita tidak pernah berharap akan ada kuasa gaib, misalnya, roh orang tua kita yang sudah meninggal akan melindungi kita dari marabahaya.