Tampilkan postingan dengan label Aku Punya Impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Punya Impian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

Aku Punya Impian

Catatan: Tulisan ini bertajuk Sekolah Masa Depan: Kenangan dan Harapan untuk SMA Immanuel Medan, dimuat di harian Sinar Indonesia Baru, 7 Juli 2003

Ketika belajar di Jepang
Ketika melintas di bawah pepohonan rimbun pada sebuah jalan di Penang, Malaysia, guide tour yang memandu perjalanan kami,  menunjuk ke gedung tua yang berdiri kokoh di atas halaman rumput yang luas. “Itu bekas sekolah saya. Kami dulu menggunakan English sebagai bahasa pengantar,” ujarnya bangga.

Tentu saja, sahabat dari negeri jiran itu tidak bermaksud pamer. Diam-diam aku pun merasa kagum melihat bangunan tua itu. Mungkin sudah ratusan tahun usianya tapi kelihatan sangat terawat. Di negeri kita gedung-gedung kuno dibiarkan tak terurus (lihatlah, apa yang terjadi dengan istana Maimun di Medan). Atau lenyap satu demi satu ditelan waktu digantikan gedung-gedung  seperti susunan kotak korek api. Peninggalan-peninggalan masa silam yang merupakan saksi-saksi bisu dalam mengungkap proses panjang sejarah negeri kita, sudah begitu langka.

Aku pun terkenang bekas sekolah tercinta, SMA Immanuel Medan. Dalam hal “pamer” sekolah, sebenarnya aku juga sering melakukannya kepada siapa saja bila melintas di sepanjang jalan Slamet Riadi-Jendral Sudirman. Ya,  aku bangga sekali pernah bersekolah di sana. Dan aku tahu, banyak sekali pelajar ingin sekolah di sana.

Bagiku, menuntut ilmu di Immanuel merupakan satu perjuangan yang tak pernah terlupakan. Usai SMP (1981), aku memutuskan sendiri untuk melanjutkan sekolah  di sana. Aku tidak perlu meminta pertimbangan dari siapapun. Bapak pasti keberatan kalau aku beri tahu biaya pendaftarannya. Aku takut dianggap macam-macam saja. Lalu, dari mana aku memperoleh biayanya? Aku beruntung, aku dapat hadiah dari Tabanas sebesar Rp 1 juta setahun sebelum masuk SMA. Uang itulah aku gunakan untuk biaya pendaftaran.

Waktu itu aku sangat terpengaruh pesan Bung Karno yang tertulis dalam buku tulis, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit!”. Sebagai anak remaja, aku sudah punya impian, yakni kuliah di perguruan tinggi ternama di negeri ini, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia! Pada waktu itu, betapa heboh rasanya melihat orang-orang yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri (PTN) bergengsi seperti UI, ITB, UGM,  dan UNPAD. Nama kita pun terkenal karena bagi yang lulus diumumkan di koran-koran. Banyak pula yang bilang, lulusan UI gampang cari kerja! Jadi, siapa tidak ingin kuliah di sana?

Tentu aku sadar, jalan yang akan ditempuh tidaklah mudah. Bayangkan, betapa berat kompetisi yang harus dihadapi ribuan pelajar untuk mendapat sedikit kursi yang tersedia. Mereka yang punya cita-cita “setinggi bintang di langit”, pastilah jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri.

Aku pun menggunakan strategi yang muncul dari diri sendiri. Aku harus mencari sekolah bermutu, tempat aku dilatih untuk menghadapi ujian-ujian berat. Oleh karena itulah, aku pilih Immanuel. Kenapa di sana? Informasi yang aku peroleh dari mulut ke mulut: sekolah itu adalah sekolah anak-anak orang kaya, pintar-pintar, dan memiliki disiplin tinggi.  Betapa sempurna, pikirku waktu itu. Sudah kaya, pintar, disiplin lagi. Aku selalu berkata keras kepada diri aku: jangan sampai menjadi orang yang sudah miskin, bodoh, malas lagi!

Adapun informasi resmi yang kuperoleh dari harian Sinar Indonesia Baru, setiap tahun sekitar 50 persen dari total siswa lulusan SMA Immanuel masuk PTN.  Informasi ini  penting sekali bagiku. Ini menjadi semacam pendorong semangat  bagiku untuk berjuang dalam menggapai cita-cita. Dalam hitunganku, kalau ada seratus murid yang lulus, dan andaikata aku termasuk dalam rangking 50 besar, maka secara statistik aku sudah lulus. Apalagi kalau aku masuk ranking sepuluh besar!

Bagiku, Immanuel adalah “The Real School”. Sekolah yang benar-benar aku impikan. Mula-mula aku heran menyaksikan penampilan guru-guru berdasi, apalagi lengkap dengan kacamatanya. Ya, mirip  dengan direktur perusahaan besar. Sungguh berwibawa. Materi-materi pelajaran disampaikan oleh guru-guru berdedikasi tinggi. Sampai sekarang aku ingat, guru Biologi, Bapak Sihombing menyampaikan metode belajar secara mudah. Misalnya, untuk mengingat nama planet-planet secara berurutan dari matahari, sebut saja “mamevebu mayu sauneplu”, yakni singkatan dari Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto. 

Strategi lain adalah fokus pada pelajaran yang akan diuji di PTN, yakni Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan IPS (Ekonomi, Sejarah, Geografi, Pendidikan Moral Pancasila). Secara khusus aku menambah jam belajar untuk keempat  pelajaran tersebut. Meminjam istilah Stephen R Covey, dalam buku First Things First, keempat pelajaran itu merupakan kuadran kualitas. “Disinilah kita melakukan perencanaan jangka panjang, mengantisipasi, dan menanggulangi masalah-masalah untuk memperluas cakrawala pikir kita, dan meningkatkan keahlian kita”, tulisnya.

Menurutku, mempelajari seabrek pelajaran lain seperti Olah Raga, Tata Buku, Hitung Dagang, Seni Rupa, Kesenian (belajar baca not-not balok yang selalu membuat kami tertawa), Stenografi, dan Bahasa Jerman adalah …. bukan saja tidak perlu, tapi juga tidak penting! Aku dulu berjanji, tidak akan bersedih kalau ada angka merah dalam salah satu pelajaran tersebut. Visiku jelas: UI. Aku sudah cukup direpotkan dengan pelajaran-pelajaran yang akan diujikan untuk PTN. Kenapa kita mau direpotkan dengan pelajaran-pelajaran lain yang sama sekali tidak diperlukan untuk masuk UI? Kenapa kita harus buang-buang waktu?

Pernah aku berkunjung ke Singapura, dan  bertanya kepada seorang anak Medan yang melajutkan studi di sana tentang pelajaran di Indonesia. Jawabannya sungguh mencengangkan. Menurutnya, pelajaran di Indonesia terlalu banyak.  Bahkan, orang tuanya yang lulusan Inggris  menegaskan, dibandingkan dengan negeri David Beckham, pelajaran di Indonesia terlalu berat sangkin banyaknya.  Bayangkan, seorang siswa harus mempelajari banyak pelajaran yang belum tentu diminati.

Aku teringat komentar mantan Perdana Menteri legendaris Inggris, Winston Churchill dalam buku Accelerated Learning for the 21st Century karya Colin Rose dan Malkolm J. Nicol: “Saya mau merayakan ulang tahun ke-12 ketika menghadapi  ujian-ujian sekolah yang tidak ramah, yang selama tujuh tahun berikutnya saya diwajibkan menempuh perjalanan itu. Ujian ibarat persidangan besar bagi saya. Subjek-subjek yang disukai para penguji hampir semuanya adalah materi-materi yang tidak saya sukai. Sebenarnya  saya   lebih  suka    diuji dalam subjek sejarah, puisi, dan esai. Tetapi, di pihak lain, para penguji lebih suka Bahasa Latin dan Matematika. Dan kehendak merekalah yang berlaku. Terlebih lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang kedua subjek tersebut adalah pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama sekali tidak mampu saya jawab dengan memuaskan. Saya sebenarnya lebih suka jika diminta untuk mengatakan apa yang saya ketahui benar-benar, tapi mereka selalu mencoba menanyakan apa yang tidak saya ketahui. Ketika saya bermaksud hendak menunjukkan pengetahuan saya, mereka mencoba mencari-cari dan mengungkap ketidaktahuan saya. Perlakuan semacam itu hanya akan mengakibatkan satu hasil, saya tidak dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik”.

Colin Rose dan Malcolm J Nicholl menegaskan, “Hampir di mana pun, kegembiraan belajar sering berubah menjadi cercaan kejam. Pembelajaran menjadi disamakan dengan pemerolehan serpihan-serpihan informasi yang diperlukan untuk lulus ujian dan memperoleh gelar. Subjek-subjek pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi saling tidak terkait dan terpisah dari dunia nyata. Belajar menjadi beban yang membuat stres.”

Sekarang, setelah mengevaluasi strategiku dalam belajar, aku pikir, itulah cara  terbaikku. Perlu aku   sampaikan,   salah satu strategi siswa-siswa Indonesia yang berhasil merebut perhatian dunia dengan menyabet sejumlah medali dalam Olimpiade Matematika, Kimia, dan Fisika, yakni mereka dikarantina sebelum bertarung ketat, dengan latihan-latihan yang fokus dan dilakukan secara menyenangkan. Bisa kita bayangkan, apa yang terjadi jika dalam latihan itu mereka dijejali dengan pelajaran “gado-gado”?

Oh ya, perlu kusampaikan, kerja kerasku di Immanuel akhirnya membuahkan hasil: aku selalu masuk tiga besar di jurusan IPS, kemudian pada semester V-VI, aku ranking pertama! Aku berbisik dalam diriku, lihatlah aku menjadi juara pertama di sekolah terbaik di Medan.... Aku pun semakin mantap mendaftar ke UI. Demikian pesan guru bahasa Indonesia, Bapak Surbakti yang masih aku ingat, “Lancar kaji karena diulang, pasar jalan karena diturut.” Artinya, “Sesuatu itu menjadi milik kita kalau diulang-ulang melakukannya”. Tersirat dalam pesan itu, menuntut ilmu  butuh kesabaran; tidak ada jalur cepat menjadi orang sukses.

Usai ujian masuk PTN, aku pergi ke Semarang. Berlibur di rumah kos abangku yang kuliah di Universitas Diponegoro. Aku pun berpikir, kalau gagal masuk PTN, aku akan ikut bimbingan tes selama setahun. Namun, abangku merasa yakin, aku akan berhasil dalam ujian, minimal masuk Komunikasi Massa USU sebagai pilihan kedua, mengingat hasil tesku sekitar 75 persen dari seluruh soal bisa aku kerjakan dengan benar.

Hasil tes Sipenmaru diumumkan pada Sabtu, 14 Juli 1984. Namun, pada hari itu aku belum tahu apakah berhasil atau tidak. Aku mengikuti ujian di Medan, termasuk rayon Barat, sedangkan Semarang masuk rayon tengah. Aku sempat pergi ke kampus Undip untuk mencari informasi, tapi yang kulihat hanya hasil ujian untuk rayon tengah. Maklum saja, pada waktu itu, informasi tidak secepat sekarang beredar. Abangku pun terpaksa berangkat ke Bandung untuk mencari informasi penting itu.

Keesokan harinya, seusai ibadah, seorang pengurus gereja mengatakan, namaku kayaknya ada tercantum di koran Sinar Harapan (sekarang Suara Pembaruan). Membuat jantungku berdebar-debar. Benarkah? Ah, jangan-jangan dia sedang bercanda, menganggap cita-citaku masuk Ekonomi UI terlalu muluk-muluk? Bukankah dia sendiri mengatakan, “Kayaknya....” Ah, lebih baik jangan langsung percaya dulu, nanti kecewanya bukan main kalau ternyata  bukan namaku. Namun, untuk meyakinkanku, dia mengajakku ke rumahnya untuk melihat koran itu. Terlebih dahulu kami mengantarkan keluarganya ke stasiun kereta api, Tawang untuk tujuan Jakarta. Sembari menunggu kereta api berangkat, aku melihat penjaja koran lewat. Aku pun memanggilnya. Dengan tak sabar dan jantung semakin berdebar-debar kencang, aku membuka lembaran koran yang memuat nama-nama yang masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ya, Tuhan, ternyata ada namaku! Tanganku seketika gemetar, karena aku masih belum begitu yakin, toh banyak yang mirip namanya, bukan? Siapa tahu itu bukan aku? Lalu, aku menoleh ke nomor ujian yang juga dimuat dalam koran itu. Ya, itu nomor ujianku.  Aku ingat betul. Cihuy…! Aku lulus! Aku lulus! Tanpa sadar, aku berteriak keras dengan tangan terkepal di peron itu. Orang-orang melihatku. Mereka segera tahu apa yang sedang terjadi. Karena pada saat itu di seantero negeri ini sedang “demam” masuk perguruan tinggi dambaan.  Mereka pun mendatangiku, dan menyalamiku. Impianku menjadi kenyataan!    

Minggu, 19 Desember 2010

Tuan Tanah dan Tuan Otak

Sumber: Tulisan ini dimuat di harian Sinar Indonesia Baru, 20 Maret 2004.


Ludwig van Beethoven (1770-1827)

Ada satu kisah menarik dari surat-menyurat antara komponis besar, Ludwig van Beethoven (1770-1827) dengan saudara laki-lakinya. Setiap mengakhiri suratnya, saudaranya yang kaya itu membubuhkan tanda tangan lengkap dengan menyebut statusnya sebagai "Tuan Tanah". Mungkin maksudnya untuk mengeritik pilihan hidup Beethoven yang membuatnya tetap miskin hingga akhir hayatnya.
Namun, kemiskinan  tidak membuat Beethoven minder. Di dalam suratnya, Beethoven malah menasehati: “Baik-baiklah mendidik anak kalian, karena yang dapat membuat seseorang sungguh-sungguh bahagia adalah kepribadiannya, bukan uang….!” Dan ketika musikus tersohor yang sering gonta-ganti rumah kontrakan itu mengakhiri tulisannya, tak lupa pula membubuhkan tanda tangan, dan menyebut dirinya sebagai “Tuan Otak”.
            Karena saudaranya mengandalkan dirinya sebagai Tuan Tanah, kita jadi tidak begitu mengenalnya. Sebab, sejarah memang tidak pernah mencatat sesuatu yang penting, kecuali surat-menyurat itu. Kalaupun sejarah pernah menyinggungnya, tentu saja karena  ia punya hubungan dekat dengan nama besar Beethoven.
Tony Buzan, pengarang Head First, bukan hanya menulis satu paragraf kecil kisah itu di halaman terakhir bukunya tanpa  menyebut nama saudaranya. Ketika dia berlalu, kita tidak perlu tahu. Dia dan kekayaannya menghilang bersama rumput kering abad kesembilan belas.
Namun, tidak demikian Beethoven. Nama dan karya-karyanya harum abadi. Hati siapa yang  tak   tersentuh mendengar alunan Moonlight Sonata di   tengah   malam  yang senyap? Dan apakah kita pernah mengamati, tukang es keliling, masuk gang ke luar gang, dari satu kampung ke kampung lain,  menjajakan dagangannya sembari “memainkan” Fur Elise?
            Jane Stuart Smith dan Betty Carlson dalam buku The Gift of Music:  Great Composers and Their Influence menulis, “Beethoven merupakan salah seorang pemikir teragung dalam dunia musik. Sejak dini ia telah menjauhkan diri dari kesembronoan. Rasa ingin tahunya besar, dan ia terus belajar sepanjang hidupnya”. Bahkan, ketika pendengarannya terganggu (tuli), ia tidak menyerah. Ia justru berjuang keras untuk meningkatkan kinerja otaknya. Ia bukan saja menjadi Tuan Otak, melainkan juga adalah seorang manusia berintegritas tinggi. Simfoni-simfoni agungnya lahir pada masa-masa sulit dalam hidupnya.
            Henry David Thoreau (1817-1864) menyatakan, sesungguhnya tidak ada fakta yang lebih membesarkan hati selain kemampuan manusia yang tidak diragukan untuk dapat meningkatkan kehidupan melalui upaya yang disadarinya. Kita bisa menyaksikan, bangsa-bangsa maju terus berusaha meningkatkan kemampuannya untuk menghasilkan hal-hal menakjubkan. Setelah tiba di bulan untuk kali pertama  pada 1969, dan sukses mengirim robot Spirit yang “cerdas” ke Mars, AS berencana akan mengirimkan orangnya ke sana. Eropa dan Jepang juga tidak ketinggalan untuk menjajaki kemungkinan manusia bisa tinggal di planet merah itu. Perlu dicatat, China telah berhasil pula mengirimkan orang pertamanya ke ruang angkasa.  “Lompatan terbesar umat manusia pada gelombang keempat adalah era luar angkasa. Ini benar-benar revolusi maha besar”, ujar Alfin Toffler (Tempo, 15-21 Desember 2003).
            Futurolog terkenal itu memerkirakan, gelombang keempat terjadi sekitar 50 tahun lagi. Ia membayangkan, pada saat itu manusia ingin bermukim di bulan atau planet lain.  
            Lalu, bagaimana kita menghadapi masa depan? Kalau kita pernah bangga dengan visi Indonesia, mungkin ketika kita punya sejumlah Repelita (rencana pembangunan lima tahun) pada zaman Soeharto. Waktu itu, para pemimpin kia pastilah berjuang keras untuk menyusun visi dan misi bangsa ini. Kalau terwujud, Indonesia menjadi negeri industri. Kita akan sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Apalagi setelah Profesor BJ Habibie pulang membawa ilmu dari Jerman. “Kita akan melakukannya dengan lompatan teknologi,” ujarnya optimis. Dan rakyat bertepuk tangan ketika menyaksikan pesawat terbang canggih buatan anak bangsa mengudara. Dasar otak jenius, kata ibu-ibu waktu itu.
            Namun, visi indah itu tidak pernah terwujud. Kesalahan utama kita tentu saja bukan karena otak kita yang salah, melainkan karena nihilnya integritas. Visi tanpa integritas adalah bohong belaka.
Kita bisa  belajar dari runtuhnya kerajaan terkuat, Romawi, yang pernah ada di bumi ini. Sejarah mencatat hingga abad kedua Masehi, orang-orang kaya Romawi hidup bersenang-senang, tidak ada yang merangsang kerja keras, tidak ada semangat untuk mengukir sejarah gemilang seperti ketika menaklukkan Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Afrika Utara. Prajurit-prajurit yang biasanya memilih seorang jenderal cemerlang sebagai kaisar, digantikan orang setengah barbar yang tidak punya kepedulian terhadap kebudayaaan. Pejabat-pejabat Romawi sangat melecehkan pendidikan. Rakyat dibuat menjadi sapi perahan. Kerajaan Romawi, suatu saat menjadi stagnan, akhirnya runtuh, bukan karena serangan hebat dari luar, melainkan karena tidak becus mengurus negerinya (Bertrand Russel, History of Western Philoshopy).
            Banyak orang skeptis, perjalanan bangsa kita akan terhenti karena  sudah habis dijarah. Sejumlah pengamat mengatakan, negeri kita berada di ambang keruntuhan (state failure). Tentu saja, kita tidak ingin mimpi buruk itu terjadi. Oleh karena itu,  kita harus bersungguh-sungguh berjuang untuk meningkatkan kemampuan otak kita, membangun karakter yang baik, dan bekerja keras.



Rabu, 15 Desember 2010

Cita-cita

Sumber: Tulisan ini dimuat di harian Analisa, 27 Januari 2008.


Albert Einstein (1879-1955)

Dalam suatu ceramah, tokoh terkenal dari AS, Dr Billy Graham, pernah menyampaikan satu pesan: betapa pentingnya kita memiliki tujuan. Ia mengambil sebuah ilustrasi yang sering diceritakan tentang ilmuwan besar, Albert Einstein (1879-1955) yang sedang melakukan perjalanan dengan menumpang kereta api. Ketika itu kondektur muncul untuk memeriksa karcis para penumpang. Seketika Einstein yang kelihatan sering tampak linglung itu sibuk merogoh satu demi satu sakunya, tapi karcis itu tidak juga ditemukannya. Diam-diam sang kondektur mengamati kakek tua itu, dan akhirnya ia tersadar, sosok di depannya ternyata orang besar  yang gambarnya sering terpampang di media massa. Ya, dia adalah pemenang hadiah Nobel di bidang Fisika pada 1921. “Ah, jangan kuatir. Saya kenal Anda. Tidak perlu menunjukkan karcis itu,” ujarnya, lalu melanjutkan pemeriksaannya.
Tak lama kemudian, kondektur muncul lagi melewati bangku Einstein dengan sebuah kantungan berisi potongan karcis. Namun, ia melihat sosok terkenal itu masih sibuk mencari karcisnya. Bahkan ia merangkak sampai ke kolong kursi. Kondektur itu menjadi iba, lalu berbisik kepadanya. “Profesor, saya percaya pada Anda. Anda tidak mungkin naik kereta api tanpa membeli tiket,” ujarnya. Einstein pun memandang sang kondektur. “Anak muda, ini bukan soal kepercayaan, tapi saya ingin mengetahui tujuan saya. Saya perlu karcis itu karena di situ tertulis tujuan saya,” ujarnya.
Ya, sebuah ilustrasi menarik yang menggambarkan betapa ilmuwan besar seperti Einstein serius sekali mencari tujuannya. Tujuan adalah suatu petunjuk, seperti  kompas yang dibutuhkan kapal ketika berlayar mengarungi samudera luas. Tujuan memberi spirit bagi kita untuk menghadapi kehidupan yang serba tidak menentu.  Tujuan membuat kita bergairah dalam menghadapi segala tantangan.
Masih ingat dengan Marie Curie (1867-1934)? “Marie Curie adalah perempuan paling hebad di abad ke-20,” tulis Paul Strathern dalam buku Curie and Radioactivity. Sebagai ilmuwan, hanya segelintir orang yang berprestasi seperti dia. Bayangkan saja, ia adalah pemenang hadiah Nobel sebanyak dua kali. Hebatnya, di dua bidang yang berbeda pula,  Fisika (1903) dan Kimia (1911).
Tentu saja mudah mengatakan, Tuhan mengaruniakan Marie Curie otak yang jenius. Namun, jangan lupa, ia bekerja keras sepanjang hidupnya untuk menggapai cita-citanya. Seperti tulis Eiji Yoshikawa, dalam buku Musashi yang tersohor itu, “Karena Musashi tahu dirinya orang biasa, maka ia selalu mencoba meningkatkan diri. Tak seorang pun menghargai usaha mati-matian yang harus ia lakukan. Namun sekarang, ketika latihannya yang bertahun-tahun itu sudah memberikan hasil demikian hebat, tiap orang lalu bicara bahwa ia memiliki ‘bakat pemberian dewa’. Begitulah cara orang yang tidak tekun berlatih menyenangkan diri.”
Marie Curie (1867-1934)
Jangan pernah berpikir, seabrek prestasi cemerlang diperoleh Curie tanpa usaha keras seperti yang dikatakan orang-orang tentang pemain pedang legendaris Musashi. Seperti Musashi yang udik itu, Marie Curie berasal dari kaum pinggiran. Ia lahir di Polandia, 7 November 1867. Pada masa itu, negerinya dijajah oleh Rusia.  Ketika berusia sepuluh tahun, ibunya meninggal karena TBC, dan ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai guru. Meskipun kehidupannya serba sulit, Curie mampu lulus ujian sekolah menengah dengan menyabet penghargaan medali emas. Namun, sayang sekali, pada masa itu, wanita Polandia tidak diijinkan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Masa depan tampak begitu suram bagi kebanyakan orang, terutama kaum wanita. Sampai di sini, biasanya sebagian besar orang memilih untuk menyerah. Ya, mau bagaimana lagi? Bukankah alasannya sudah cukup meyakinkan? Keluarga miskin dan tidak tersedia pendidikan tinggi bagi kaum perempuan. Di luar negeri memang terbuka peluang untuk kaum perempuan belajar di perguruan tinggi, tapi biayanya dari mana? “Dalam benak mereka, mereka tidak akan pernah mencapai cita-cita itu. Untuk bertahan hidup saja berat sekali,” tulis Beverley Birch dalam biografi Marie Curie.
            Adanya cita-cita membuat Marie Curie tidak sudi menyerah. Karena di negerinya tidak tersedia pendidikan tinggi untuk perempuan, maka ia bertekad untuk melanjutkan studi di Perancis. Sekilas memang tampak muluk-muluk. Ya, bisakah kita bayangkan, kita ingin kuliah di luar negeri, sementara kita hidup di bawah garis kemiskinan? Seperti judul dalam acara televisi saja: Mimpi kali, yeee! Namun, Curie punya ide yang hampir tidak masuk akal untuk mewujudkan impiannya, yakni menjadi pengasuh anak-anak orang kaya, dan untuk itupun ia harus pergi jauh meninggalkan keluarganya. Ya, mau bekerja apalagi? Negerinya dalam keadaan terjajah. Angka pengangguran begitu tinggi. Hanya menjadi pembantu rumah tangga tersedia pekerjaan baginya. Ia pun menjalani profesinya dengan tabah. Dan ia tak pernah kehilangan cita-citanya. Sebab pandangannya selalu tertuju ke sebuah cita-cita di mana seperti mustahil untuk membuat kemajuan sekecil apapun, tapi ia tetap berkeyakinan untuk mencapainya. Empat tahun kemudian uang  terkumpul. Ia pun berangkat ke Paris.
Lagi-lagi, ia terbentur pada sebuah rintangan yang tak mudah untuk ditaklukkan! Bayangkan, baru pertama kali ia menginjakkan kaki di negeri Eiffel, dan ternyata sedikit pun ia tidak memahami materi kuliah yang disampaikan dalam bahasa Perancis. Bahasa yang selama ini dipelajarinya ternyata belum memadai untuk mengikuti kuliah di Universitas Sorbonne yang tersohor itu. Namun, ia membajakan tekadnya lagi. Siang malam ia berkutat dengan bahasa Perancis di samping bahan-bahan kuliahnya. Perlu ditambahkan, ia pun sering menahan lapar karena putus uang.          
            “Seluruh pikiranku hanya terpusat pada pelajaranku. Semua hal baru yang kulihat dan kupelajari membangkitkan semangatku. Seolah ada dunia baru yang terbuka di hadapanku, dunia ilmu pengetahuan, dunia yang akhirnya boleh kumasuki dengan bebas,” tulis Marie Curie dalam sebuah surat pada 1892. Pepatah mengatakan, kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis. Akhirnya, sejarah mencatat prestasi cemerlangnya, dua kali meraih hadiah Nobel: di bidang Fisika dan Kimia.
Apakah Anda sudah memiliki tujuan yang jelas? Kalau belum, cobalah secara proaktif menemukannya, seperti Einstein dalam ilustrasi: sibuk mencari-cari tujuannya (tentu saja karena ia tidak ingin tersesat). Adapun sekolah adalah ibarat kereta api yang sedang membawa kita ke suatu tujuan. Tanpa memiliki tujuan jelas, kita akan tersesat. Hidup tanpa tujuan seperti kapal tanpa kompas. Tentu saja, ada ongkos yang harus dibayar, yakni rela berkorban untuk menaklukkan tembok-tembok penghalang itu. Lagipula, hidup ini kalau tidak diisi dengan perjuangan, apa sih maknanya? Kisah perjalanan sukses Marie Curie yang telah berhasil menyabet dua hadiah Nobel yang bergengsi itu tentu saja masih relevan hingga kini, dan hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dalam mengejar cita-cita.

Selasa, 14 Desember 2010

Waktu

 Sumber: Tulisan ini dimuat di harian Sinar Indonesia Baru,19 Januari 2005 dan diedit untuk buku Aku Punya Impian.
 
Pemborosan terbesar yang kita lakukan selama ini sebenarnya bukanlah BBM (bahan bakar minyak) yang sebagian besar di antara kita protes kalau harganya dinaikkan. Melainkan waktu. Kenapa itu terjadi? Tentu saja, karena kita mendapatkan waktu secara cuma-cuma. Gratis! Ya, kita merasa tidak ada yang perlu  dikorbankan untuk mendapatkan waktu seperti BBM. Alasan ini, disadari atau tidak, menjadi salah satu faktor membuat kita sering mengabaikan waktu sebagai sesuatu yang bernilai.
            Masih ingat lagu lama, If I only had time? Penyanyinya bersenandung murung, “Andai aku masih punya waktu….” Kita mungkin punya banyak uang, tapi waktu tidak bisa dibeli.
            Betapa berharga waktu. Saya pernah tanya sejumlah remaja dari kalangan sederhana: apakah kamu mau menerima uang sebanyak 5 milyar rupiah, tapi kamu diubah jadi seorang kakek tua? Sembari terkekeh dan menuduh saya mengada-ada, semua menolak dengan tegas. Namun, coba renungkan, kenapa mereka menolak? Takut mati? Atau menghargai hidup ini? Saya pikir, betapa kaya sesungguhnya mereka yang berusia belia. Mereka masih memiliki banyak kesempatan untuk membuat prestasi-prestasi cemerlang. Paling tidak, walau hidup dengan apa adanya, mereka merasa lebih berharga dari kakek tua milyader itu. Ya, apakah artinya punya uang berlimpah kalau kita segera kehilangan nyawa digrogoti usia? Kalau begitu, bukankah waktu sesungguhnya begitu bernilai?
Berbicara soal waktu,  saya selalu teringat pada fisikawan legendaris Albert Einstein (1879-1955). Sejak remaja, ia sering memikirkan waktu. Apakah waktu? Berapa cepat waktu berjalan? Bisakah waktu diukur, seperti panjang, lebar, dan tinggi? Apakah waktu akan habis? Seperti halnya ruang, Einstein menganggap waktu begitu penting. Teori relativitasnya yang terkenal itu (E=MC²), tidak lepas dari konsep waktu. Ia pernah ditanya wartawan, apakah relativitas itu? Orang yang banyak merenung dan dikira dungu pada masa kecilnya itu menjawab, “Kalau kita duduk sejam di samping cewek cakep terasa cepat sekali. Tapi ketika kita duduk di atas tungku panas selama semenit terasa lama sekali. Itulah relativitas.” Ya, sejam bisa terasa singkat dan semenit bisa terasa lama. Itulah waktu.
Pepatah Tiongkok kuno berkata, “Bukan berapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita hidup”. Dengan kata lain, tidak menjadi persoalan muda atau tua, yang penting adalah kita berguna bagi kehidupan ini.
Sejarah mencatat, orang-orang muda ternyata mampu melahirkan karya-karya monumental. Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) pada usia lima tahun sudah menggubah dua karya musik terkenal, meninggal dalam usia 35 tahun, tapi mewariskan ratusan sonata, simfoni, dan opera. Anne Frank (1929-1945) menulis catatan hariannya sejak berusia 13 tahun di kamar persembunyian karena dikejar-kejar tentara Nazi,  meninggal pada usia 16 tahun, catatannya itu kemudian menjadi buku terkenal di dunia, The Diary of Anne Frank. Pecatur Sergey Karjakin dari Ukraina menjadi Grandmaster termuda di dunia pada tahun 2002 dalam usia 12 tahun 7 bulan (bandingkan dengan juara dunia berkali-kali, Garry Kasparov menjadi GM pada usia 16 tahun, 11 bulan, 29 hari). Tentu saja masih banyak orang muda yang telah berkarya bagi dunia. 
Dan sejarah mencatat, usia tua mampu pula menorehkan karya-karya agung. Winston Churchill (1874-1965) sudah berusia 80 tahun ketika masih menjabat Perdana Menteri Inggris yang legendaris. Albert Schweitzer (1875-1965), seorang pendeta  yang memiliki empat gelar doktor (Teologia, Kedokteran, Filsafat, dan Musik), pada usia 78 tahun ditetapkan sebagai pemenang hadiah Nobel di bidang    Perdamaian    karena  pengabdiannya kepada orang-orang miskin  di   Afrika.   Billy  Graham (1918- )  kini berusia lebih 92 tahun, tapi masih memiliki semangat tinggi untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Dan tentu saja, masih banyak lagi manusia  berusia lanjut, tapi masih mampu menggarami dan menerangi dunia.
Dengan memiliki 64 tense, bahasa Yunani menunjukkan kepekaan begitu tinggi terhadap waktu (bandingkan bahasa Inggris 16 tense). Adapun kata yang diterjemahkan untuk waktu adalah kronos dan kairos. Sangat besar perbedaan keduanya. Kronos adalah waktu yang berlangsung secara mekanis. Ketika kita melakukan rutinitas sehari-hari –bangun tidur, mandi, sarapan, nonton televisi– maka kita hidup di dalam waktu bernama kronos. Adapun kairos adalah momen penting yang tak akan terulang lagi karena keistimewaannya. Momen penting –menerima penghargaan, lulus sarjana, juara dunia– yang terjadi dalam kehidupan kita berlangsung dalam waktu yang bernama kairos. Kesempatan untuk mengubah kronos menjadi kairos tergantung kita. Di dalam mitologi Yunani, dewa kesempatan digambarkan dengan makhluk berkepala botak di bagian belakang. Ia memiliki sayap di kaki. Tentu saja, kalau dewa kesempatan melintas cepat sekali. Sekali lolos, mustahil kita dapat menangkapnya. Oleh karena itu, kita harus berjaga-jaga dari depan agar kesempatan tidak lepas dari tangkapan kita.
Mitologi ini mengingatkan kita pada pepatah : orang bodoh membuang-buang kesempatan; orang biasa menunggu kesempatan; orang bijaksana mencari kesempatan. Tidak ada bedanya waktu yang digunakan seorang bijaksana dengan waktu seorang pemalas. Satu hari 24 jam. Namun yang membuat berbeda adalah orang yang menggunakannya. “Untuk apa hidup, kalau bukan untuk perjuangan-perjuangan yang mulia dan menjadikan dunia yang kacau ini lebih baik setelah kita mati?” ujar Sir Winston Churchill. Sedangkan ganjaran bagi pemalas adalah seperti dikatakan Raja Salomo, “maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu”.
            Nabi Musa menulis, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap”. Akhirnya marilah kita menghayati renungan Nabi Musa: “Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Semoga waktu yang diberikan Tuhan dapat kita manfaatkan dengan baik.